
Mereka Bukan Orang-orang Sembarangan
Kata orang Arab, “Apa yang dilihat tidak seperti yang dikabarkan”. Kerusakan dampak Banjir Sumatra, ternyata kenyataannya jauh lebih mengenaskan ketimbang yang dikabarkan.
“Kalau kita di sana melihat langsung kondisinya sangat memprihatinkan. Walhasil, di sini banyak peluang untuk beramal saleh, banyak peluang untuk berbuat. Sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat kepada manusia yang lain. Masing-masing punya peluang. Yang punya harta dengan hartanya, yang punya tenaga dengan tenaganya, dan terkhusus di sini untuk tenaga kesehatan sangat-sangat diperlukan. Kalau bantuan makanan dan lain-lain, Alhamdulillah sudah meski tetap kurang tapi banyak yang melakukan karena mudah,” nasihat al Ustadz Qomar hafidzahullah, salah satu pembina tim relawan nakes ahlussunnah, “tapi untuk kesehatan dan ahli, nggak sembarang orang. Dan dilihat di lapangan waktu itu masih sangat kurang bantuan kesehatan. Sangat-sangat kurang hanya sedikit yang kami lihat waktu itu.”
Memang tidak sembarang orang yang bisa menjadi anggota tim relawan nakes (tenaga kesehatan) ahlussunnah di Kuala Simpang Aceh Tamiang. Bukan semata-mata hanya mereka yang memiliki kemampuan (dalam pelayanan kesehatan), melainkan juga punya kerelaan.
Kerelaan untuk menyumbangkan pikiran, tenaga, dan waktu secara percuma di tempat terdampak bencana Banjir Sumatra. Tempat di mana tatanan sosial dan ekonomi porak poranda.
Disrupsi -terputusnya fungsi normal suatu sistem- kehidupan sehari-hari. Sekolah diliburkan, tempat ibadah tidak berfungsi. Warga terpaksa mengungsi, hidup di tempat darurat, kehilangan privasi dan struktur keluarga normal. Mereka juga rentan terhadap penyakit.
Aktivitas ekonomi lumpuh. Pasar tutup, transportasi terganggu, distribusi barang terhambat. Sawah, kebun, ternak, alat kerja, kios, dan rumah rusak atau hilang. Pendapatan rumah tangga turun drastis. Petani gagal panen, pedagang tidak bisa berjualan, buruh harian kehilangan upah.
Di tempat seperti itu tim relawan nakes ahlussunnah rela terjun langsung membantu para korban. Memberikan bantuan pelayanan kesehatan bagi yang membutuhkan.
Mereka -tim relawan nakes ahlussunnah- sebenarnya bisa saja membantu korban dengan cara yang sangat mudah. Cukup gerakkan jari, transfer donasi.
Sembarang orang -asal berpunya- bisa melakukannya. Namun mereka enggan karena mereka memang bukan orang-orang sembarangan.
Di Aceh Tamiang, dokter dan dokter spesialis itu menyiapkan sendiri tempat praktiknya. Menyapu lantai sebelum digunakan untuk duduk melantai memeriksa pasiennya.
Di tempat praktik atau rumah sakit, mereka biasanya didatangi si sakit. Di Aceh Tamiang, mereka sendiri yang mendatangi si sakit. Warga terdampak Banjir Sumatra yang menanti pasrah di pos-pos pengungsian yang harus didatangi dengan susah payah.
Sepulang memberikan pelayanan kesehatan, mereka kembali ke posko di Ma’had At Tashfiyah Kuala Simpang Aceh Tamiang. Rapat koordinasi untuk pelayanan keesokan hari sebelum melelapkan diri di atas kasur tipis ala santri.
Mereka lakukan semua itu semata-mata untuk mematuhi perintah Allah ‘azza wa jalla. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: “Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS Al Maidah: 2)
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Banjir Sumatra adalah musibah besar yang meninggalkan duka. Tak cuma duka di Aceh, Sumbar, dan Sumut melainkan duka di seluruh negeri.
“Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Musibah yang besar. Bukan saatnya kita menyalah-nyalahkan siapa yang salah. Qodarallah wa maa syaa’a fa’al. Apa yang Allah takdirkan pasti terjadi. Sudah terjadi di hadapan kita. Kaum muslimin bahkan ada di antara mereka ikhwah ahlussunnah, kerabat kita dan seterusnya. Maka bersemangatlah untuk ta’awun membantu mereka dengan harta, dengan tenaga, dengan apa yang kita bisa,” nasihat al Ustadz Muhammad As Sewed hafidzahullah kepada tim relawan nakes ahlussunnah sebelum mereka berangkat ke Aceh Tamiang.
Kehadiran tim relawan nakes ahlussunnah yang bermarkas di Ma’had At Tashfiyah Kuala Simpang Aceh Tamiang adalah bentuk kepedulian ahlussunnah kepada saudaranya sebangsa dan setanah air.
“Semoga masyarakat yang terdampak dapat terobati kesedihannya dengan kehadiran kami dengan memberikan pelayanan kesehatan yang sangat-sangat dibutuhkan masyarakat Aceh dan sekitarnya,” ujar dr. Andri Rais, SpPD, salah seorang dari tim relawan nakes ahlussunnah gelombang 1 yang bertugas pada 25 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026.
(Jazaakumullahu khoiron katsiron tim relawan nakes ahlussunnah gelombang 1.)
Tanggal 3 Januari 2026 pagi, giliran tim relawan nakes ahlussunnah gelombang 2 yang terbang menuju Aceh Tamiang. Formasi personel relawan berbeda dengan gelombang 1, namun keduanya memiliki kesamaan.
Sama-sama bukan orang-orang sembarangan. Mereka orang-orang yang telah Allah ‘azza wa jalla pilihkan.
Mereka adalah dr. Ramzi Syamlan, M.Kes, Sp.A; dr. Nur Setyawan Ekosusilo; Apt. Sumarlan; Dani Yusuf SST, MARS; Dwi Agung Nofiyantho, Amk; Iksan Nuryadi; Abdul Ghofar; dan al Ustadz Fauzan Al Maidani hafidzahullah.
Selamat bertugas tim relawan nakes ahlussunnah gelombang 2. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjaga kalian. (Ibnu Tabrizi)