

Hari Pertama 71 Pasien
Jaraknya jauh, motor gak hidup lagi pascabanjir. Keluarga di pengungsian sudah banyak yang sakit sesak napas. Mental yang kena, kelamaan di pengungsian. Anak-anak menangis setiap malam. Lokasinya di Desa Rantau dan Terban.
Demikian deskripsi informasi yang diterima tim relawan nakes ahlussunnah dari warga terdampak Banjir Sumatra di Aceh Tamiang yang membutuhkan layanan kesehatan. Dari chatingan di WAG koordinasi tim relawan nakes ahlussunnah itu diperoleh informasi masih banyak masyarakat yang belum tersentuh pelayanan kesehatan.
“Banjir di Aceh Tamiang kali ini qodarallah banjir paling parah dalam sejarah. Ketinggian air maupun dampakmya. Luas daerah (terdampak banjir) hampir 90% dari (seluruh) wilayah,” ujar al Ustadz Afif Abu Aliyah, Pengasuh Ma’had At-Tashfiyah di Paya Bedi Kualasimpang Aceh Tamiang.
Pemerintah Aceh, Polri, TNI sebenarnya sudah turun tangan membuat posko-posko untuk menyalurkan bantuan. Namun karena luasnya daerah yang terdampak, belum semua tertangani. Lokasi yang terisolasi, menjadi kendala tersendiri.
Tim relawan nakes ahlussunnah gelombang 1 pernah mendatangi 3 warga terdampak yang mengharuskan mereka bed rest. Kendaraan tidak bisa menuju lokasi, hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Jalanan menuju rumah pasien terendam lumpur.
Kendala dan permasalahan-permasalahan yang ditemukan tim relawan nakes ahlussunnah gelombang 1 -yang bertugas 27 Desember 2025 – 1 Januari 2026- itu menjadi bahan evaluasi untuk program kerja gelombang 2. Semisal masyarakat Aceh Tamiang tedampak bencana Banjir Sumatra lebih memilih kembali ke rumahnya meski kondisinya tidak memungkinkan. Urusan kesehatan dinomor duakan.
Mereka yang ngotot pulang ke rumahnya berusaha membersihkan rumahnya. Qodarallah pada beberapa kasus ada yang terluka seperti yang dialami Tegar.
Sabtu (3/1) malam tim relawan nakes ahlussunnah gelombang 2 melakukan rapat kordinasi di posko mereka di Ma’had At-Tashfiyah. Rapat untuk membahas program kerja mereka selama di sana.
Malam Ahad itu menghasilkan beberapa keputusan. Di antaranya poskes (pos kesehatan) di Masjid Babul Falah masih dipertahankan karena antusias yang tinggi dan banyaknya warga terdampak di sekitar lokasi yang membutuhkan pelayanan kesehatan.
Pun begitu program poskes di Ma’had At-Tashfiyah dan home visit tetap dilanjutkan. Dengan adanya home visit, diharapkan jumlah warga terdampak yang membutuhkan layanan kesehatan semakin banyak yang bisa ditangani.
Home visit ke pasien bernama Tegar juga terus berlanjut. Home visit ke warga terdampak yang membutuhkan layanan kesehatan seperti Tegar akan menjadi fokus tim relawan nakes ahlussunnah gelombang 2. Masih banyak warga terdampak yang membutuhkan layanan kesehatan namun kondisi kesehatan dan lokasi, mereka kesulitan mendatangi poskes.

Di Ahad (4/1) lalu tim relawan nakes ahlussunnah gelombang 2 menyambangi Tegar untuk perawatan di pos pengungsian di Tanjung Rambut. Siapa sangka ternyata ada pengungsi lainnya yang membutuhkan layanan kesehatan. Sehingga di pos pengungsian itu ada 8 pasien yang harus ditangani.
Pun begitu ketika tim relawan nakes ahlussunnah itu mendatangi desa Benua Raja kecamatan Rantau kabupaten Aceh Tamiang. Selama 3 jam (pukul 10:00-13:00 WIB) ada 49 pasien yang harus dilayani.
Ahad sore hari (15:00-15:30 WIB), tim relawan nakes ahlussunnah gelombang 2 melakukan kunjungan ke Kota Lintang Bawah. Sebuah kelurahan di kecamatan Kota Kualasimpang Aceh Tamiang. Kelurahan yang nyaris hilang karena rumah-rumah terendam lumpur dan raib dihantam kayu-kayu gelondongan karena Banjir Sumatra.
“Sudah ada janji dengan 12 calon pasien (di Kota Lintang Bawah),” ujar Aditya Dharma, AMKL; staf sanitasi RSUD Tamiang, salah satu personel tim relawan nakes ahlussunnah asli Aceh.
Dalam perjalanan pulang dari Kota Lintang, tim relawan nakes ahlussunnah gelombang 2 mampir di dua titik (Masjid Muhammadiyah dan di belakang pondok putri Ma’had At-Tashfiyah Paya Bedi Rantau) karena ada pasien yang harus dilayani. Total di hari pertama, ada 71 pasien dengan beragam keluhan.
Alhamdulillah. (Ibnu Tabrizi)