

Makan Siang di Benua Raja
Duka Aceh Tamiang. Sebanyak 57 orang meninggal dunia dan 23 lainnya masih hilang. Selain itu, 18 warga mengalami luka-luka akibat Banjir Sumatra yang menerjang 12 kecamatan, atau seluruh kecamatan di Aceh Tamiang. Tercatat 262.087 jiwa mengungsi, sementara 36.838 jiwa lainnya terdampak namun enggan mengungsi.
Kondisi pengungsian di Aceh Tamiang sungguh memprihatinkan. Tinggal di tenda-tenda dengan kelengkapan fasilitas -semisal MCK- yang sarat keterbatasan. Makan pun mengandalkan bantuan dari pihak/orang lain.
“Bisa dibilang seperti itu. Masih banyak yang belum bisa pulang ke rumah. Jadi sebagian dari mereka stand by di pinggir-pinggir jalan menanti bantuan terkhusus makanan siap santap. Ada juga yang mengandalkan dapur-dapur umum. Wallahu a’lam,” ujar al Ustadz Afif Abu Aliyah hafidzahullah, Pengasuh Ma’had At-Tashfiyah di Paya Bedi Kualasimpang Aceh Tamiang, “waktu (tim relawan nakes ahlussunnah) gelombang 1 kita sempat bagi-bagi nasi, tapi khusus pasien dan BKM Masjid Babul Falah. Jadi setiap pasien datang, selain dapat obat yang mereka butuhkan mereka juga dapat nasi Padang. Walhamdulillah.”
Menjadi sesuatu yang “di luar nurul tak habis fikri” ketika ada pengungsi menjamu orang lain yang mengunjungi mereka di pos pengungsian. Sesuatu yang luar biasa. Extra ordinary. Itu dialami tim relawan nakes ahlussunnah gelombang 2 dari Ma’had At-Tashfiyah ketika mengunjungi Desa Benua Raja kecamatan Rantau Aceh Tamiang (4/1).
Seusai melakukan pelayanan kesehatan kepada 49 warga desa tersebut, tim relawan nakes ahlussunnah dijamu makan siang. Menu makan berupa nasi, ikan sambalado, tumis buncis, pepes ikan asin plus sambal belacan. Sebutan sambel terasi di Aceh.

“MasyaAllah, kami tak kuasa menolak ajakan yang penuh harap untuk makan bersama,” kata Aditya Dharma, salah seorang relawan nakes ahlussunnah.
Sebenarnya pihak Ma’had At-Tashfiyah sudah menyiapkan makan siang untuk tim relawan nakes ahlussunnah. Namun warga Benua Raja berharap tim relawan nakes ahlussunnah berkenan memenuhi ajakan makan siang bersama.
“Campur aduk. Di satu sisi kondisi mereka sedang sulit, tapi malah mengundang kami makan. Rasanya terharu luar biasa. Akhirnya kami terima saja ajakan makan itu, mudah-mudahan masyarakat jadi senang dan berbesar hati,” imbuh dr. Fauzan, MMRS, CrM, ketua tim kesehatan dari relawan nakes ahlussunnah untuk Aceh Tamiang menceritakan perasaannya ketika ikut makan siang bersama warga di Benua Raja.
Adalah Pak Fauzi seorang warga Benua Raja yang mengundang tim relawan nakes ahlussunnah makan di rumah abangnya. Pak Fauzi adalah wali santri Ma’had At-Tashfiyah yang rumahnya terendam banjir setinggi atap.
“Alhamdulillah kedatangan tim relawan ini, orangnya ramah-ramah. Begitu pula pelayanannya. Kami maklumi juga karena keadaannya seperti ini. Kami mohon maaf penyambutan kami ala kadarnya seperti ini saja,” ujar Pak Fauzi.
Sungguh makan siang yang nikmat. Bukan perkara menunya saja, melainkan kebaikan dan ketulusan warga Benua Raja. Mereka yang sedang ditimpa musibah, masih mau berbagi dengan orang lain. Berbagi makanan yang sebenarnya kondisi mereka juga sangat membutuhkan.
Belum habis rasa heran, keesokan hari (Selasa, 6/1) salah satu anggota tim relawan nakes ahlussunnah mendapat japrian WA dari Pak Fauzi.
Isinya:
Assalamualaikum.
Hari ini ke kampung mana?
Hari ini istri saya masak kari terong.
Kemarin ada yang bilang pengin makan kari terong.
MasyaAllah.
Untuk kedua kalinya, tim relawan nakes ahlussunnah diundang makan siang di Benua Raja. (Ibnu Tabrizi)