Sekitar 338 Ribu Anak di Indonesia Mengalami Gejala Anxiety

Gambar oleh Gerd Altmann dari Pixabay
Pembatasan Medsos untuk Anak di Indonesia
04/02/2026
Seminar Nasional “BISA bareng TikTok: Belajar dan Implementasi Skill Adaptif Bareng TikTok”
Seminar Bisa Bareng Tiktok
04/15/2026
Show all
Gambar oleh Hanin Abouzeid dari Pixabay

Gambar oleh Hanin Abouzeid dari Pixabay

Sebuah penelitian menyebutkan sekitar 26,7% remaja Indonesia mengalami anxiety. Itu artinya: 1 dari 4 remaja bergejala anxiety.

Penelitian lain menunjukkan usia muda (15–24 tahun), sekitar 1 dari 5 remaja dan dewasa muda mengalami gejala depresi atau kecemasan signifikan.

Gambar oleh Tumisu dari Pixabay

Kelompok Gen Z terbilang paling rentan mengalami anxiety. Sebuah studi mahasiswa Fakultas Kedokteran UI (Universitas Indonesia), 46,9% mahasiswa tahun ketiga Fakultas Kedokteran UI rentan terkena anxiety.

Dalam konferensi pers di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (9/3), Menkes Budi Gunadi Sadikin mengatakan: “Sekitar 338 ribu anak atau 4,4 persen mengalami gejala kecemasan (anxiety disorder). Sementara 363 ribu anak atau sekitar 4,8 persen menunjukkan gejala depresi.”

Anxiety adalah istilah dalam bahasa Inggris yang berarti kecemasan. Perasaan khawatir, takut, atau gelisah terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi.

Sederhananya, anxiety adalah rasa was-was berlebihan tentang masa depan. Bisa muncul tanpa sebab yang jelas, atau karena tekanan tertentu.

Ikatan Dokter Indonesia menjelaskan: “Gangguan kecemasan adalah kondisi kesehatan mental yang ditandai dengan kecemasan dan ketakutan berlebihan yang mengganggu aktivitas sehari-hari.”

Ciri-ciri atau beberapa tanda anxiety yang umum adalah pikiran terus menerus khawatir. Sulit tenang atau merasa tegang. Jantung berdebar, napas cepat. Sulit tidur, mudah lelah atau sulit fokus.

Cemas adalah hal yang normal dan manusiawi. Namun, perlu diwaspadai jika menjadi berlebihan. Anxiety yang tidak ditangani bisa mengganggu kualitas hidup.

Penting bagi setiap individu untuk mengenali kondisi dirinya dan mengelola stres dengan baik. Jangan ragu mencari bantuan profesional jika diperlukan.

Kecemasan bukanlah sesuatu yang harus selalu dihindari, tetapi juga bukan untuk diabaikan. Dengan pemahaman yang tepat, bisa dibedakan mana kecemasan yang wajar dan mana yang perlu ditangani lebih serius. Tidak hanya menjaga kesehatan mental, tetapi juga kualitas hidup secara keseluruhan. (AZ)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *