CATATAN DARI LOMBA MENULIS JAMU NUSANTARA 2025

Catatan Dari Lomba Melukis Jamu Nusantara 2025
CATATAN DARI LOMBA MELUKIS JAMU NUSANTARA 2025
07/22/2025
Catatan Lomba Mewarnai Jamu Nusantara 2025
Catatan dari Lomba Mewarnai Jamu Nusantara 2025
07/22/2025

CATATAN DARI LOMBA MENULIS JAMU NUSANTARA 2025
Mewariskan Budaya dalam Bentuk Tulisan

Bagi seorang penulis -atau yang gemar menulis- menulis hal baru adalah sebuah tantangan. Apalagi jika hal baru tersebut sesuatu yang sudah lama diabaikan.

Contohnya menulis tentang jamu. Ketika menulis tentang jamu itu kemudian dilombakan, kompetisi pastinya seru.

Seperti yang dilakukan oleh LKP-LPK Janaaha. Dalam rangka memperingati Hari Jamu 2025, mereka menggelar lomba menulis. Temanya, Jamu Nusantara: Meracik Warisan Budaya Menjadi Kreasi Masa Kini. Acara berlangsung pada 23 Mei – 7 Juni 2025.

Sebuah lomba yang menantang bagi mereka yang doyan merangkai kata dalam bentuk tulisan. Tidak boleh gegabah dalam memilih kata-kata, harus didasarkan pada fakta. Karena ini menyangkut warisan budaya.

“Prosesnya itu aku enjoy banget. Riset dan baca-baca data yang relevan karena passion aku memang menulis. Aku juga gak lupa buat proof reading buat memastikan tak ada typo dan lainnya. Intinya semua proses aku jalani dengan santai dan tetap serius,” ungkap Annabilla Tiara Putri, sang juara 3 di lomba menulis ini.

“Sejak awal membaca temanya, saya merasa tertantang sekaligus terinspirasi. Jamu bukan hanya minuman tradisional. Ia adalah cermin dari jati diri bangsa yang kaya, bijak, dan bersahaja. Saya ingin menyampaikan gagasan bahwa warisan budaya seperti jamu tidak cukup hanya dijaga. Tapi harus dihidupkan kembali dalam bentuk baru yang relevan dan menyentuh generasi sekarang,” imbuh Reyhan Ferdiansyah, sang juara 2.

Seperti halnya Annabilla Tiara Putri, Reyhan Ferdiansyah melakukan riset terkait jamu sebelum menulis. Dia juga punya keinginan jamu bisa hadir di ruang kelas dan gampang diakses oleh generasi muda.

“Sehingga jamu bukan sebagai kenangan masa lalu, tapi sebagai simbol masa depan yang sehat dan berakar. Karya ini bukan hanya tentang gagasan, tapi juga tentang harapan saya agar generasi muda tak pernah kehilangan arah pulang ke nilai-nilai luhur bangsa,” pungkas Reyhan Ferdiansyah.(AZ)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *