

Sex, Drugs, Rock & Roll
Sex, drugs, rock & roll. Slogan yang muncul di tahun 1960-an, yang dianggap menggambarkan keliaran gaya hidup musik rock. Slogan tersebut kemudian dipopulerkan oleh seorang musisi Inggris bernama Ian Durry lewat lagu berjudul “Sex & Drugs & Rock & Roll”.
Tiga perilaku hidup liar tersebut seakan melekat pada diri seorang rock star. Pesta pora yang diselipi seks bebas, alkohol, dan narkoba. Seakan dianggap sebagai hal yang lumrah jika seorang rock star memiliki gaya hidup seperti itu. Glamor.
Tidak mengherankan jika gaya hidup di luar batas kewajaran itu memakan banyak korban. Overdosis. Penyalahgunaan obat-obatan terlarang membuat penggunanya mengalami depresi berat dan kecemasan yang berlebihan.
Tidak sedikit dari mereka yang mengakhiri hidupnya –karena depresi dan ketergantungan narkoba– dengan cara bunuh diri. Bahkan di antara mereka terbilang masih muda, berusia 27 tahun.
Sampai-sampai muncul istilah ’27 Club’. Sebuah kelompok musisi yang meninggal dunia di usia 27 tahun, beberapa di antaranya karena overdosis.
Mereka yang termasuk dari ’27 Club’ adalah Jimi Hendrix (1970/overdosis obat tidur dan alkohol); Janis Joplin (1970/overdosis heroin); Jim Morrison (1971/diduga serangan jantung, kemungkinan terkait alkohol dan narkoba); Kurt Cobain (1994/bunuh diri, didahului oleh kecanduan heroin dan depresi berat); Amy Winehouse (2011/keracunan alkohol setelah lama bergulat dengan narkoba).
Sex, drugs, rock & roll terbukti tidak menjanjikan keglamoran justru kebinasaan. Harta dan ketenaran yang diperoleh seorang rock star, justru membuatnya semakin terjerembab dalam alkohol dan narkoba.
Chris Cornell (vokalis Soundgarden dan Audioslave) dan Chester Bennington (vokalis Linkin Park) adalah contohnya. Di puncak ketenaran karier, mereka mengakhiri hidupnya dengan cara tragis. Gantung diri (tahun 2017). Depresi, kecanduan alkohol dan narkoba disebut-sebut sebagai pemicunya.(AZ/dari berbagai sumber)