Otak Membusuk” Gegara Kecanduan Scroll

Image by NoName_13 from Pixabay
Radikalisme Mengintai di Gim Roblox
10/16/2025
Seabrek Manfaat Menulis Halus bagi Anak
10/27/2025
Show all
Image by David Sánchez-Medina Calderón from Pixabay

Image by David Sánchez-Medina Calderón from Pixabay

Scroll HP melihat video-video singkat di Tik Tok, YouTube Shorts, Reels memang menyenangkan. Video pendek memberikan rangsangan dopamin tinggi tapi cepat hilang.

Dopamin adalah zat kimia alami di otak yang berfungsi sebagai neurotransmiter, yaitu pengirim pesan antar sel saraf (neuron). Ringkasnya, dopamin adalah “zat kebahagiaan” atau “hormon kesenangan” yang membuat kita merasa senang, puas, dan termotivasi.

Anak jadi terbiasa mencari hiburan instan dan sulit menikmati hal yang butuh kesabaran. Seperti membaca, belajar, atau bermain di dunia nyata.

Karena kecanduan scroll video, anak jadi sulit fokus atau cepat bosan tanpa gadget. Tidak tertarik pada permainan kreatif (lego, menggambar, membaca). Emosi tidak stabil saat diminta berhenti menonton. Anak jadi terus-menerus mencari hiburan instan.

Ketika akses gadget dibatasi, anak cenderung marah atau tantrum. Menunjukkan ketergantungan dan rasa kehilangan terhadap konten tersebut. Marah-marah jika HP diminta lepas dari tangannya.

Hati-hati, jika seorang anak suka scroll video pendek di Tik Tok, YouTube Shorts, Reels dan memperlihatkan tanda-tanda seperti di atas. Ada kemungkinan anak tersebut mengalami “brain rot”.

Istilah “brain rot” secara letterlijk (harfiah) berarti “otak membusuk”. Namun dalam konteks modern (terutama di internet dan budaya pop), maknanya bukan medis, melainkan istilah slang untuk menggambarkan kondisi seseorang. Kondisi seseorang ketika terlalu banyak mengonsumsi konten yang receh, tidak bermanfaat, atau adiktif, sampai kemampuan berpikirnya terasa tumpul atau fokusnya menurun.

Kenapa anak-anak rentan terkena “brain rot”?

Otak anak masih berkembang. Bagian otak yang mengatur fokus, kontrol diri, dan pengambilan keputusan (prefrontal cortex) baru matang sekitar usia 25 tahun. Jadi, paparan konten cepat dan berlebihan bisa memengaruhi pembentukan pola pikir dan kebiasaan sejak dini.

“Konten-konten singkat itu bikin otak bekerja serbacepat. Akhirnya anak-anak kehilangan kesabaran, sulit fokus, dan makin jarang membaca,” jelas Devinta Puspita Ratri, S.Pd., M.Pd., Pakar Linguistik dan dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (dikutip dari https://tulungagung.jatimtimes.com).

Mencegah anak terkena “brain rot” ortu harus bijak dalam memberi akses gadget. Batasi waktu layar (screen time) sesuai usia. Dorong aktivitas dunia nyata: membaca, bermain di luar, berinteraksi dengan keluarga. Pilihkan konten edukatif atau kreatif. Jadikan ortu sebagai teladan digital bagi anak yang meniru kebiasaan ortu.(AZ)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *