

Seabrek Manfaat Menulis Halus bagi Anak
“Saya minta Mendikdasmen meninjau kembali. Saya kira perlu dikembalikan pelajaran menulis. Menulis dengan baik, menulis halus. Tapi tulisannya harus besar,” kata Presiden Prabowo di Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/10/2025) dikutip dari akun YouTube Tribun MedanTV.
Presiden Prabowo sampaikan hal tersebut terkait tulisan anak-anak sekolah yang kecil dengan alasan untuk penghematan. Agar buku tidak cepat habis/penuh. Beliau khawatir jika dibiarkan anak-anak akan memakai kacamata semuanya nanti. Padahal anak-anak adalah investasi sumber daya manusia di masa depan.
“Menteri keuangan, kalau perlu Menteri Keuangan kita bagi buku-buku sekolah,” kata Presiden Prabowo.
Pernyataan Presiden Prabowo di Istana Negara itu menarik untuk dibahas. Terutama soal usulan kembali dibukanya pelajaran menulis halus. Bukan semata-mata melatih anak menulis huruf yang berukuran besar-besar.
Di pendidikan formal tingkat dasar di Indonesia pada tahun 1960-1970 dikenal dengan pelajaran menulis huruf latin dengan cara penulisan tebal tipis. Namanya pelajaran “menulis halus”. Buku untuk menulisnya pun memiliki garis khusus. “Tulisan halus” melatih motorik halus, bermanfaat untuk anak-anak karena meningkatkan koordinasi tangan-mata.
Yang menarik, FastForward News (Mei 2025), melaporkan tentang tren global reintroduksi tulisan tangan. Dilaporkan negara Skandinavia dan AS, mulai kembali mengutamakan tulisan tangan -terutama cursive- dalam kurikulum awal sekolah. Alasan utamanya adalah kekhawatiran terhadap penurunan literasi, daya ingat, dan kemampuan berpikir kreatif akibat ketergantungan terhadap media digital.
Cursive adalah gaya tulisan tangan yang huruf-hurufnya disambungkan satu sama lain dengan garis sambung (stroke) sehingga membentuk aliran tulisan yang lebih cepat dan lancar. Kita mengenalnya sebagai huruf latin atau tulisan latin.
Situs World Economic Forum, www.weforum.org, pada 13 Oktober 2020 menulis artikel berjudul “Writing by hand makes children better at learning, study says”. Sebuah studi dari Norwegia menunjukkan bahwa menulis tangan melibatkan jaringan sensorik dan motorik lebih luas dibanding mengetik, membantu memperkuat memori dan pemahaman.(AZ)