Bunuh Diri karena Bullying?
Tragis. Seorang siswa berinisial P (16 tahun) ditemukan tewas dengan cara gantung diri di rumahnya pada 14 Juli 2025. Di hari pertama masuk sekolah setelah libur kenaikan kelas. Orang tua korban menyatakan bahwa anaknya telah mengalami bullying fisik/verbal di sekolah sejak Juni 2025.
Pihak sekolah menyanggah pernyataan keluarga mendiang terkait bullying. Pihak sekolah menyebut ada kontribusi masalah akademik (nilai rendah, tidak naik kelas) terkait kasus bunuh diri tersebut.
Seorang siswi SMA berinisial KK (16 tahun) ditemukan meninggal dunia akibat gantung diri. Pihak kepolisian setempat menyelidiki dugaan bullying (perundungan) di sekolah sebagai salah satu faktor pemicunya.
Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan, sejak 2012 hingga 2015, 2 ribu anak di seluruh Indonesia, sebanyak 87 persennya mengalami kasus kekerasan di antaranya bullying.
“Bullying sangat mungkin menjadi faktor penyebab seseorang bunuh diri. Namun, tidak semua kasus bunuh diri semata-mata disebabkan oleh bullying,” ujar Psikolog Lala kepada NU Online Jakarta, Sabtu (20/9/2025) mengomentari kematian siswi MTs di Cipayung, Jakarta Timur, yang ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri. Seorang siswi berusia 13 tahun, yang ditemukan tewas gantung diri di rumahnya pada hari Senin, 15 September 2025, sekitar pukul 17.30 WIB.
Mengapa korban bullying (perundungan) berisiko mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri?
Dikutip dari ChatGPT oleh OpenAI, dikonsultasikan pada Oktober 2025, ada beberapa alasan penjelasannya:
- Rasa tidak berharga dan kehilangan harga diri
Bullying (perundungan) sering dilakukan secara terus-menerus — baik secara verbal, fisik, maupun lewat media sosial.
Korban mulai percaya pada kata-kata pelaku: bahwa dirinya “bodoh”, “jelek”, “tidak pantas hidup”, dan sebagainya.
Ketika penghinaan itu diulang terus, rasa percaya diri korban hancur. Ia merasa keberadaannya tidak bermakna lagi di dunia ini. - Rasa terisolasi dan tidak punya tempat aman
Korban bullying sering merasa sendirian. Kadang orang di sekitar (teman, guru, bahkan keluarga) tidak menyadari penderitaannya, atau justru menyepelekan (“Ah, jangan baper,”; “Namanya juga bercanda”).
Akhirnya, korban merasa tidak ada siapa pun yang mengerti atau membelanya, dan kesepian yang berat ini bisa membuatnya berpikir kematian adalah satu-satunya “keluarnya rasa sakit”. - Stres dan depresi berat
Bullying bisa memicu gangguan mental seperti depresi atau kecemasan ekstrem.
Otak korban jadi kelelahan menanggung rasa takut, malu, dan cemas setiap hari.
Dalam kondisi depresi berat, pikiran menjadi kabur — korban bukan sekadar “ingin mati”, tapi ingin berhenti merasakan sakit.
Sayangnya, dalam logika yang sudah terguncang itu, bunuh diri tampak seperti satu-satunya cara. - Kurangnya dukungan emosional dan sistem perlindungan
Sering kali lingkungan (sekolah, keluarga, komunitas) gagal menciptakan sistem perlindungan yang kuat.
Tidak ada ruang aman untuk curhat, tidak ada penegakan aturan yang adil, dan pelaku tidak mendapat sanksi.
Ini menambah rasa tak berdaya dan putus asa pada korban. - Tekanan media sosial (cyberbullying)
Di era digital, bullying tidak berhenti di sekolah atau tempat kerja.
Komentar jahat, meme, dan penghinaan bisa tersebar luas, membuat korban merasa dipermalukan di hadapan dunia.
Tekanan sosial ini jauh lebih berat karena tidak ada tempat untuk “bersembunyi”.
Kesimpulan:
Korban bullying memilih bunuh diri bukan karena lemah, tapi karena ia merasa tidak punya lagi kekuatan dan dukungan untuk bertahan. Yang dibutuhkan bukan sekadar nasihat, tetapi empati, perlindungan, dan tindakan nyata dari lingkungan sekitar. (AZ)