

Edukasi Kebencanaan
Kucuran air mata para korban banjir di Maninjau ketika menerima bantuan logistik (7/12) sederas air hujan yang menyebabkan banjir yang telah meluluhlantakkan tempat tinggal mereka. Demikian kata salah satu relawan yang memberikan bantuan logistik di Maninjau, salah satu daerah di Sumatra Barat yang terdampak banjir bandang.
“Saya berharap sekali, uluran tangan, doa, dukungan kepada saudara-saudara kita yang terdampak banjir,” ujar sang relawan terbata-bata sembari menahan isak tangisnya.
Banjir bandang di akhir November 2025 yang menimpa Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat menyisakan duka yang mendalam. Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), korban yang meninggal akibat banjir bandang dan longsor di 3 provinsi telah mencapai 914 jiwa (data per 6 Desember 2025). Sejumlah 518 orang dinyatakan hilang.
Dalam hitungan hari, ratusan jiwa melayang, puluhan desa terisolasi, dan ribuan warga kehilangan tempat tinggal. Air bah yang membawa lumpur dan gelondongan kayu menghanyutkan rumah, meruntuhkan jembatan, memutuskan jalan. Wilayah-wilayah pegunungan berubah menjadi aliran lumpur yang mematikan.
Banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat adalah bencana yang tak terelakkan. Mencari siapa yang paling bertanggungjawab atas musibah tersebut sepertinya bukan saatnya.
Bagaimanapun banyak faktor yang ditengarai menyebabkan bencana tersebut. Semisal cuaca ekstrem, curah hujan yang jauh di atas normal dalam durasi singkat; pengaruh fenomena cuaca regional (siklon, anomali musim).
Deforestasi besar-besaran di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat yang merusak lingkungan ikut andil. DAS (Daerah Aliran Sungai) yang kritis sehingga tidak mampu menahan debit air. Alih fungsi hutan menjadi kebun/tambang yang meningkatkan risiko longsor dan banjir.

Yang bijak dilakukan adalah mencari pelajaran atas bencana tersebut. Salah satunya adalah pentingnya menjaga kelestarian hutan.
Menjaga hutan adalah menjaga nyawa. Hutan adalah penahan air alami. Tanpa vegetasi, banjir bandang menjadi tak terhindarkan.
Selain itu, edukasi kebencanaan wajib dimiliki semua orang. Edukasi kebencanaan adalah proses pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana alam atau non-alam.
Tujuan edukasi kebencanaan adalah untuk mengurangi risiko bencana. Serta meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi dan pulih dari bencana.
Edukasi kebencanaan meliputi berbagai aspek. Seperti pengetahuan tentang bencana: memahami jenis-jenis bencana, penyebab, dan dampaknya.
Kesiapan bencana: memahami cara menghadapi bencana, termasuk evakuasi, pertolongan pertama, dan penyelamatan diri.
Mitigasi bencana: memahami cara mengurangi risiko bencana, seperti mengurangi kerentanan dan meningkatkan ketahanan.
Manajemen bencana: memahami cara mengelola bencana, termasuk respons, rehabilitasi, dan rekonstruksi.
Edukasi kebencanaan dapat dilakukan melalui berbagai cara. Seperti: penyuluhan dan pelatihan; simulasi dan latihan; pameran dan pekan kesiapsiagaan bencana; media sosial dan kampanye; dan pendidikan di sekolah.
Dalam kasus Banjir Sumatra, masyarakat perlu memahami tanda-tanda bahaya akan ancaman banjir. Semisal hujan ekstrem selama berjam-jam, suara gemuruh dari hulu, air sungai berubah keruh tiba-tiba, atau retakan tanah di lereng. Jika hal tersebut terjadi, masyarakat harus tahu bagaimana menyikapinya.
Bekerja sama dengan aparat pemerintah setempat, masyarakat harus diedukasi terkait hal tersebut. Bagaimana cara menghadapi banjir seperti evakuasi, pertolongan pertama, dan penyelamatan diri.
Jika dimungkinkan dilakukan latihan dan simulasi untuk meningkatkan kesiapan masyarakat dalam menghadapi banjir. Yakni dengan cara mempraktikkan evakuasi dan penyelamatan diri.
Sepertinya perlu juga pendidikan di sekolah terkait edukasi kebencanaan banjir. Mengintegrasikan edukasi kebencanaan banjir ke dalam kurikulum sekolah untuk meningkatkan kesadaran anak-anak tentang bahaya banjir.
Banjir bandang yang menggilas Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat adalah bencana yang terelakkan. Tak bisa dihentikan.
Yang bisa diupayakan memperkecil dampak kerusakannya. Dengan menjaga alam, meningkatkan literasi bencana, dan membangun kesiapsiagaan, lebih banyak nyawa di masa depan yang bisa diselamatkan. (dari berbagai sumber/AZ)