

Pakai Sepatumu, Simpan Sandalmu
Kamis 25 Desember 2025 pukul 02.16 WIB. Di dini hari itu sudah terjadi obrolan di sebuah grup WA. Seorang anggota grup tersebut mengabarkan dirinya telah berada di masjid di Bandara Halim Perdanakusuma.

Anggota lainnya mengabarkan jika posisinya sudah di Cikampek. Anggota lain mengomentari dengan mengatakan berangkat menuju Bandara Halim Perdanakusuma pada pukul 3 nanti. Anggota lainnya menuturkan mereka akan sholat Shubuh di Stasiun Gambir, kemudian menunggu jemputan ke Bandara Halim Perdanakusuma.
Obrolan di grup WA terus berlanjut. Ada yang mengingatkan perbekalan yang harus dibawa agar tidak terlewatkan. Ada yang memforward sebuah pesan. Isinya: “Mohon stby sebentar ya pak, nanti sekitar jam 7.30 mulai kita check in.”
Begitulah obrolan di WAG yang ternyata koordinasi tim relawan nakes (tenaga kesehatan) untuk korban Banjir Sumatra. Di hari Kamis (25/12) pukul 09.00 pagi mereka dijadwalkan terbang ke Medan menggunakan pesawat Hercules milik TNI Angkatan Udara.
Tim relawan nakes gelombang 1 itu membawa perbekalan yang beragam. Sebanyak 16 koli obat dan alkes; 8 koli makanan dan jamu; 2 koli ATK dan alat farmasi. Total berat keseluruhan lebih dari 250 kg.

Mereka nantinya mendirikan posko di Masjid Babul Falah, letaknya tak jauh dari Ma’had At Tashfiah Aceh Tamiang. Selama sepekan -26 Desember 2025 hingga 2 Januari 2026- mereka akan bertugas di posko tersebut.
Masjid di kompleks Bandara Halim Perdanakusuma memang menjadi titik kumpul tim relawan nakes. Dari masjid mereka menuju ke pintu gerbang Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma. Ada 2 pos yang harus mereka lalui -salah satunya pos pemeriksaan berkas dan barang- sebelum masuk rumah kaca menunggu boarding.
Tidak ada kendala Hanya saja ada anggota tim kesehatan yang kelupaan mengganti sandalnya dengan sepatu. Salah satu petugas kemudian mengingatkan agar semua anggota tim memakai sepatu.
“Lho, itu masih ada yang pakai sandal? Tolong segera pakai sepatumu,” tegur salah seorang petugas dengan ramah.
Dua dari mereka yang ditegur karena mengenakan sandal adalah dr. Andi Dwihantoro, SpB, SpBA SubSpDA (K) dari Sewon Bantul dan Didi Abdurrozaq, S.Kep., Ners dari Sukabumi. Berhubung sepatu sudah dipacking, mereka akhirnya memakai sepatu boot seadanya untuk memenuhi permintaan tersebut.

Dua orang tersebut adalah dokter spesialis dan perawat anggota tim relawan nakes yang berangkat Kamis pagi itu. Tim relawan nakes kali ini berjumlah 10 orang. Terdiri dari 3 dokter spesialis, 1 dokter umum, 1 profesi keperawatan, 1 perawat, 2 ustadz, 1 tenaga umum dan 1 tenaga pendukung farmasi dan penyehatan tradisional.
Tim relawan nakes adalah ikhwah ahlussunnah yang terpanggil untuk membantu saudaranya yang tertimpa musibah Banjir Sumatera. Mereka adalah dr. Andi Dwihantoro, SpB, SpBA SubSpDA (K); dr. Andri Rais, SpPD; dr. Adhitya Putra Pratama, SpA, MSc, SAP-K; dr. Rudi Dermawan; Didi Abdurrozaq, S.Kep., Ners.; Nono Nurdiyanto, Amd.Kep; Abah Fajar; Hamzah bin Fajar; Ahmad Nawawi.

“InsyaAllah kita akan melayani pengobatan untuk masyarakat di pengungsian. Sebagai dokter bedah saya akan melayani pasien yang luka-luka yang terdampak banjir. Info yang kami terima masyarakat yang terdampak banjir, banyak yang mengalami luka akibat paku dan seng. Sehingga yang luka-luka memerlukan perawatan,” ujar dr. Andi Dwihantoro, SpB, SpBA SubSpDA.
“Kami dari tim penyakit dalam mendapatkan berita sekarang sudah mulai fase-fase bukan karena tenggelam tapi pascabanjir. Banyak yang diare, demam, penyakit-penyakit yang diakibatkan nyamuk banyak di sana. Banyak korban yang mentalnya down berdampak ke psikis. Larinya tensi, jantung, dan lainnya,” imbuh dr. Andri Rais, SpPD.
Kondisi korban banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat membutuhkan bantuan dan pertolongan. Korban yang mengalami luka atau sakit harus mendapatkan penanganan segera.
“Seperti yang sudah diniatkan dari awal, melihat kondisi saudar-saudara kita di sana, rasa kemanusiaan, hati kita tergugah. InsyaAllah kita memberikan yang terbaik sesuai dengan ilmu dan pengalaman yang kami dapatkan,” tutur Didi Abdurrozaq S.Kep.,Ners, perawat di RSI Assyifa Sukabumi.
“Kita sebagai tim perawat membantu memulihkan kondisi di sana dengan kemampuan yang kami miliki sesuai kompetensi. Memberikan dukungan moral maupun spiritual. Mudah-mudahan kondisi di sana lekas pulih,” kata Nono Nurdiyanto, Amd.Kep, perawat di RS Prinayarinaya Karawang.
Berangkatnya tim relawan nakes menjadi bukti bahwa duka di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat adalah duka kita semua. Duka seluruh rakyat Indonesia. Duka Ibu Pertiwi.
Kegiatan sosial yang dilakukan tim relawan nakes bukan amalan yang ringan. Amalan yang mulia, sebagai mana yang disampaikan oleh al Ustadz Abdul Malik hafidzahullah, salah pembina tim relawan nakes. Untuk itu beliau memberikan nasihat kepada tim relawan nakes selalu meniatkan ikhlas hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Selalu menjaga keikhlasan.
“Keikhlasan, keikhlasan, keikhlasan,” nasihat al Ustadz Abdul Malik yang sekaligus menjadi pimpinan perjalanan dari Jakarta ke dan selama di lokasi hingga kembali.
Tim relawan nakes yang berangkat pantas diapresiasi meski mereka tak mengharapkan hal itu. Pun begitu pemerintah -meski memang sudah menjadi tugasnya- tetap harus diapresiasi. Dalam hal ini Lanud TNI AU Halim Perdanakusuma yang telah berkenan menerbangkan tim relawan nakes ke Medan.

Terima kasih kepada Komandan Lanud TNI AU Halim Perdanakusuma. Terima Bapak Mayjen TNI (Purn.) Nurcahyo Utomo. Terima kasih Bapak Marsekal TNI (Purn.) Hanafie Asnan. Terima kasih kepada tim relawan nakes.

Semoga kehadiran tim relawan nakes memberikan manfaat bagi para korban Banjir Sumatra. Tidak hanya menyembuhkan lara di raga, namun juga mengobati luka di hati. Biidznillah.
Jazaakumullahu khoiron katsiron. Semoga Allah ‘azza wa jalla membalas kalian dengan kebaikan yang banyak. (Abah Zak)