

Mereka Terdampar di Sebuah Pulau
Dusun Bandar Baru Desa Tanjung Genteng Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang Provinsi Aceh. Rabu (26/11) dini hari sekitar jam 1 hujan disertai angin kencang berlangsung hingga menjelang pukul 5 pagi di dusun itu.
Ketinggian air sungai di belakang dusun tersebut meningkat drastis. Di Rabu pagi itu luapan air sungai belum memasuki rumah-rumah warga. Namun lama kelamaan air semakin meninggi yang menyebabkan di malam Kamis itu semua warga harus mengungsi menyelamatkan diri.
Dengan menggunakan 2-3 sampan bergantian bolak-balik, warga mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Ada yang ke pondok, PTP Nusantara IV di Kebun Pulau Tiga, ada yang ke sebuah bukit.
Kamis (27/11), ketinggian air semakin naik sehingga ke bukit tersebut. Pondok yang terletak di Simpang Kanan pun kebanjiran. Warga pun kembali harus melarikan diri dari kejaran air banjir.
Hingga akhirnya mereka menemukan sebuah bukit, dengan air di sekelilingnya. Bukit tersebut seakan berubah menjadi sebuah pulau. Mereka terperangkap di sana berhari-hari.
“Selama 10 atau 12 hari kami (di “pulau” tersebut) baru bisa kembali (ke Dusun Bandar Baru),” cerita Kadus Bandar Baru Bapak Ridho Safa’at.
Begitu kembali dari pengungsian, Dusun Bandar Baru sudah luluh lantak. Dusun dengan 44 KK, tinggal menyisakan 3 rumah dan mushola.

(Tercatat 4.839 rumah hilang di Kabupaten Aceh Tamiang disapu banjir bandang. Beberapa desa dinyatakan raib. Hilang.)
Rumah salah satu warga, ibu Misri (72 tahun) bergeser ke belakang sekitar 3 meter. Di belakang rumah terdapat sungai besar. Sebuah pohon kelapa menahan rumah ibu Misri sehingga tidak terseret aliran sungai.
Alhamdulillah warga Dusun Bandar Baru berjumlah 137 jiwa selamat semuanya. Hanya saja butuh bantuan, karena beberapa di antara ada butuh layanan kesehatan.
“Kita makan pun tidak teratur, obat-obatan tidak ada,” kata Bapak Ridho Safa’at.
Kondisi Dusun Bandar Baru yang sungguh memprihatinkan itulah yang membuat tim relawan nakes ahlussunnah memutuskan membuka poskes (pos kesehatan) baru di sana. Ketika poskes dibuka pelayanan, dalam 2 jam terdaftar hampir 50 pasien.
“Kondisi masyarakat di Bandar Baru, cukup prihatin, mayoritasnya rumah mereka hanyut. Saat ini mereka tinggal di lokasi meunasah (mushola). Selain gangguan kesehatan fisik, sebagian warga juga mengalami gangguan psikis, bahkan ada yang sampai meninggal karena itu,” ujar Ahmad Nawawi dari tim relawan nakes ahlussunnah.
Poskes Bandar Baru sebenarnya hanya berjarak sekitar 8 km dari Ma’had At-Tashfiyah yang dibilang markas tim relawan nakes ahlussunnah. Namun karena beratnya medan/jalan, butuh waktu perjalanan 1-1,5 jam.
“Ma’had At-Tashfiyah itu jantung posko (bantuan) untuk Aceh Tamiang, sebab tinggal ma’had yang bisa dijadikan tempat penampungan. Alhamdulillah posisi ma’had di atas bukit,” komentar al Ustadz Abu Ziyad Fawwas hafidzahullah dari Ma’had Al Hijrah Stabat, Langkat Sumatra Utara.
Ma’had At-Tashfiyah terletak di Desa Paya Bedi Kecamatan Rantau Kabupaten Aceh Tamiang Provinsi Aceh. Ma’had ahlussunnah itu juga menjadi posko Pasukan Bersih gelombang 1 & 2 dari Ma’had Al Hijrah Stabat.
Pasukan Bersih adalah sebuah tim relawan yang beranggotakan beberapa ikhwah. Mereka berasal dari Stabat, Asahan, dan Medan. Jumlahnya bisa lebih dari 20 orang setiap gelombangnya.
“Gelombang 1 dan 2 masih berfokus di rumah-rumah ikhwah terdampak banjir. Ketinggian lumpur di dalam dan luar rumah relatif, mulai semata kaki, sampai selutut. Mayoritas lumpur dibuang ke luar rumah, ke pinggir jalan yang nantinya akan dikeruk petugas kebersihan kota,” ujar al Ustadz Abu Ziyad Fawwas yang pernah ikut jadi Pasukan Bersih gelombang 1.
Pasukan Bersih yang bekerja tidak hanya mengucurkan keringat tapi juga mengucurkan air mata. Kondisi korban terdampak Banjir Sumatra di Aceh Tamiang memang sangat memprihatinkan.
“Gak kebayang kalau ma’had juga diterjang banjir,” kata al Ustadz Abu Ziyad Fawwas.
Ikhwah dari Stabat, Medan, dan Asahan itu ternyata tak hanya membantu membersihkan lumpur rumah ikhwan yang terdampak banjir. Mereka juga ikut baksos membagikan sembako dan perbaikan rumah.
Mereka juga lah yang ikut berta’awun membangun poskes di Masjid Babul Falah. Poskes tim relawan nakes ahlussunnah di Kuala Simpang Aceh Tamiang.
Mereka menyediakan material, logistik, dan tenaga untuk membangun poskes tersebut. Posko mereka juga di Ma’had At-Tashfiyah ketika itu.
Ma’had At-Tashfiyah dibangun pada tahun 2015. Pondok pesantren ahlussunnah itu diasuh oleh al Ustadz Afif Abul Aliyah hafidzahullah. (AZ)