Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Yogyakarta kini siaga terhadap pencemaran sumur milik warga akibat debu vulkanik. Warga yang memiliki bak sumur terbuka diminta segera mengecek kondisi sumber air tersebut. Jika tercemar debu, BLH segera turun tangan.

Kasubid Pemulihan Lingkungan BLH Kota Yogyakarta, Piter Lawoasal mengungkapkan, debu vulkanik tidak boleh dipandang remeh. Jika masuk ke organ tubuh maka akan menyebabkan gangguan kesehatan dalam jangka panjang. “Kami sudah siaga. Jika ada sumur yang tercemar, segera hubungi kami di (0274) 515865,” tandasnya, Minggu (16/2/2014).

Tanda sumur tercemar yang paling mudah ialah dari segi warna dan bau. Jika warna air berubah bahkan menimbulkan bau, maka dipastikan sudah tercemar. Untuk itu, bak sumur yang terbuka diimbau agar ditutup rapat agar tidak ada celah bagi debu.

Penanganan sumur yang tercemar sebenarnya juga cukup mudah. Yakni dengan memasukkan tawas dan kapur. “Kami memiliki stok cawas dan kapur cukup banyak. Jadi tidak masalah. Tapi sampai sekarang belum ada laporan,” imbuhnya.

Selain potensi pencemaran air sumur, pencemaran kualitas udara atau polusi turut menjadi perhatian BLH. Pasalnya dibanding dengan hujan abu saat erupsi Merapi, tingkat polusi saat ini jauh lebih besar. Bahkan mencapai empat kali dari ambang batas kualitas udara.

Pada kondisi normal, kadar partikel debu di udara maksimal 250 miligram per meter kubik. Namun saat ini melonjak hingga 1.000 miligram per meter kubik. Padahal, saat erupsi Merapi lalu, potensi hanya dua kali lipat dari ambang batas. “Debu ini sangat mudah bertebangan di udara bebas. Kandungan silika nya juga sangat membahayakan. Jika kita lihat dengan mikroskop, maka terlihat seperti pecahan kaca,” paparnya.

Kualitas udara yang memprihatinkan ini merata di seluruh Kota Yogyakarta. Ironisnya, partikel terkecil dari debu yang berukuran 2,5 mikron ditemukan sangat banyak dalam kandungan abu vulkanik kali ini. Partikel inilah yang dikhawatirkan mudah tersedot pernafasan dan mengganggu saluran pernafasan manusia.

Oleh karena itu, pengendara diminta tidak mengebut di jalanan untuk mengurangi tingkat polusi. (KR)